
Jakarta, 11 Juni 2026 – Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Kick Off Penyusunan Kajian Peta Jalan Ekonomi Berketinggian Rendah (Low Altitude Economy/LAE) dan Digital Twin di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas di MARKAS Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini merupakan langkah awal pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan dan pengembangan ekosistem Low Altitude Economy (LAE) serta Digital Twin sebagai bagian dari transformasi digital nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum APDI, Dr. M. Akbar Marwan, ST., MMSI, menyampaikan bahwa keberhasilan pengembangan Low Altitude Economy tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap industri drone dalam negeri.
Menurutnya, pemerintah perlu mengambil peran sebagai “orang tua” yang membina dan mendukung pertumbuhan industri drone nasional sebagai “anak” yang sedang berkembang. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kebijakan pengadaan yang memberikan ruang bagi produk dalam negeri untuk tumbuh dan bersaing.
Sebagai contoh, APDI mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian yang telah memberikan kesempatan kepada produk drone pertanian lokal dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen untuk digunakan dalam berbagai program pertanian nasional, meskipun harga produk lokal masih relatif lebih tinggi dibandingkan produk impor. Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga keberlangsungan industri nasional sekaligus mendorong peningkatan kapasitas teknologi dalam negeri.
“Jika kementerian dan lembaga lain menerapkan pendekatan yang serupa sesuai kebutuhan operasional masing-masing, maka industri drone nasional akan memiliki pasar yang cukup untuk berkembang. Dari situlah ekosistem Low Altitude Economy dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Akbar.
Lebih lanjut, APDI menekankan bahwa keberhasilan Low Altitude Economy membutuhkan ekosistem yang lengkap, mulai dari manufaktur drone, perangkat pendukung, sistem navigasi, layanan data, operator, pelatihan sumber daya manusia, hingga industri pemeliharaan dan sertifikasi. Seluruh rantai ekosistem tersebut hanya dapat berkembang apabila terdapat permintaan yang konsisten terhadap produk dan layanan dalam negeri.
FGD yang dipimpin oleh Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, asosiasi, dan industri. Pada sesi diskusi pertama hadir narasumber dari Kementerian Perindustrian dan Prof. Dr. Muhammad Suryanegara, S.T., M.Sc. dari LEMTEK UI. Sementara pada sesi diskusi kedua hadir Direktur Utama PT Len Industri serta Direktur Utama PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (Frogs Indonesia).
Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, LEMTEK UI, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Asosiasi Sistem dan Teknologi Tanpa Awak (ASTTA), APDI, PT Len Industri, PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (Frogs Indonesia), Huawei Tech Investment, dan CT Group.
Dalam forum tersebut, Adhitya Chandra, yang menjabat sebagai Wakil Ketua ASTTA sekaligus CEO Frogs Indonesia, turut memberikan pandangan mengenai pentingnya pembangunan ekosistem teknologi tanpa awak dan pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pengembangan ekonomi berketinggian rendah di Indonesia.
APDI berharap hasil kajian yang sedang disusun Bappenas dapat menjadi fondasi kebijakan nasional yang tidak hanya membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi drone, tetapi juga memberikan keberpihakan yang nyata kepada industri drone nasional sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, melainkan juga menjadi produsen dan pemain utama dalam ekosistem Low Altitude Economy di kawasan Asia Pasifik. (Humas APDI)